Laporan
Kunjungan di Sangiran
|
|
|
Museum Manusia Purba Sangiran
|
Pada tanggal 16 Februari 2016, siswa kelas X SMAN 2 MAGELANG
mengadakan Pendidikan Luar Sekolah yang dilakukan di PT SRITEX, Museum
Sangiran, dan terakhir pergi berbelanja oleh-oleh di Solo Square. Di sini saya akan
menerangkan hasil kunjungan saya di Museum Sangiran.
A.
Moseum Purbakala Sangiran
a) Wilayah Sangiran Museum Sangiran
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa,
Indonesia.Sangiran memiliki area sekitar 48 km². Secara fisiografis sangiran
terletak pada zona Central Depression, yaitu berupa dataran rendah yang
terletak antara gunung api aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta
Lawu di sebelah timur.
Secara administratif Sangiran terletak di Kabupaten Sragen
(meliputi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta
Kecamatan Gondangrejo) dan kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.Sangiran terletak
di desa Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo)
situs ini menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun
lalu).
Situs Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup
kawasan seluas 32 km² dengan bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih
8 km dan dari barat ke timur kurang lebih 4 km². Daerah ini meliputi 12 kelurahan
di 4 kecamatan, yaitu kecamatan kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo.
Daerah sangiran memiliki sebuah sungai yang membelah daerah tersebut menjadi
dua yaitu kali cemara yang bermuara di
bengawan solo.
Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di
Indonesia dan 50% di seluruh dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari
13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan.
Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
sebagai cagar budaya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Selanjutnya keputusan itu
dikuatkan oleh Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke-20 di
Merida, Mexico yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World Heritage
(warisan dunia) No. 593.
b) Sejarah Situs Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian
yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam
kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan
pada masa itu.Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald
mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang
raksasa).Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang
berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang
mereka.Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad
hidup purba yang terawetkan di dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo
Kelurahan Krikilan untuk bahan penelitian Von Koeningswald, maupun para ahli
lainnya.Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke
laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan
Krikilan.
Setelah Von Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan
penelitian di Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto
Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin melimpah.Dari
Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin
bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen
membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen
di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum Pestosen”.
Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum
tersebut.Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan
dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada
tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo,
Kabupaten Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat
untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi
selatan.Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan bangunannya dipindahkan
dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih
besar di Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.Kompleks
Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m². Bnagunannya antara lain
terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/ Seminar, Ruang Kantor/
Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang Laboratorium, Ruang
Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar Mandi. Selanjutnya
koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di Museum Dayu
dipindahkan ke museum yang baru ini.Museum ini selain berfungsi untuk
memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk
mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian
kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa Tengah melengkaspi
Kompleks Museum Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di sisi timur museum.Dan
tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Knator dan Ruang Pertemuan
menjadi Ruang Pameran Tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang
lebih representative menggantikan museum yang ada secara bertahap.Awal tahun
2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri
dari ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II
untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang
transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang
pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.
|
|
|
Lapisan
Tanah berusia 1,8 Juta Tahun
|
c) Proses
Terbentuknya Sangiran
Pada awalnya sangiran merupakan lautan dangkal.Pada saat itu
keadaan bumi masih belum stabil seperti sekarang, di beberapa bagian bumi
seringkali mendapatkan pergerakan di dalam perut bumi yang disebabkan adanya
dorongan tekanan endogen. Sangiran juga mengalami hal serupa, karena adanya
dorongan tenaga endogen (dari dalam bumi) terjadi pengankatan dan pelipatan
pada permukaan laut sangiran. Akibat pelipatan permukaan maka terbentuklah
daratan-daratan yang mengisolasi sebagaian lautan tersebut sehingga menjadi
danau dan rawa-rawa.
Saat terjadinya masa glacial (pembekuan), permukaan air laut
menyusut, itu disebabkan karena adanya pembekuan es di kutub utara maka
muncullah daratan di permukaan bumi. Danau dan rawa sangiran yang terbentuk
dari lautan dangkal juga menjadi daratan kering.
Proses pembentukan situs sangiran erat kaitannya dengan
aktivitas gunung lawu tua. Kubah sangiran diperkirakan terbentuk akibat gaya
kompresi dari runtuhan gunung Lawu tua, gaya endogen berupa pengakatan dan
pelipatan tanah serta gaya gravitasi bumi. Gaya kompresi yang sama juga
menyebabkan terbentuknya kubah-kubah lain seperti: Kubah Gemolong, Kubah
Gamping, Kubah Bringinan, Kubah Gesingan, dan Kubah Munggur.
Tenaga endogen yang terjadi berulang-berulang mengakibatkan
permukan tanah di sangiran naik akibatnya adanya dorongan di dalam dan
membentuk bukit.Kemudian karena aktivitas gunung lawu membuat tanah perbukitan
longsor dan membentuk kubah, tanah di sekitar sungai cemarapun ikut
longsor.Akibat dari hal tersebut, terbentuklah lapisan tanah yang berbeda dari
lapisan tanah permukaan.Lapisan tanah yang terbentuk adalah lapisan dari jaman
purbakala dimana hsil dari terbentuknya tanah sangiran membuat para ahli
purbakala dan masyarakat sekitar menemukan bukti-bukti kehidupan masa
prasejarah.Higga kini lapisan tanah (stratigrafi) yang dapat ditemukan dan
diteliti terdapat 4 lapis.
Situs sangiran merupakan daerah perbukitan yang terbentuk
dari fragmen-fragmen batu gamping foraminifera dan batu pasir yang tercampur
dengan Lumpur saat masa halosen. Juga yang endapan alivial yang terdiri dari
campuran lempung, pasir, kerikil, dan krakal dengan ketebalan kurang lebih 2
meter yang dapat terlihat di sungai cemara. Sungai cemara yang mengalir
didaerah sangiran merupakan sungai anteseden yang menyayat kubah sangiran.Hal
ini menyebabkan struktur kubah dan stratifigrafi tanah daerah sangiran dapat
dipelajari dengan baik.
Tersingkapnya tanah di tepi sungai cemara menunjukan
aktivitas erosi dan sedimentasi yang intensif pada masa sekarang. Proses erosi
tersebut mengakibatkan munculnya fosil-fosil binatang maupun manusia purba di
permukaan tanah sehingga sering ditemukan fosil-fosil setelah turun hujan.
Akibat dari dorongan tenaga endogen pada awalnya, aktivitas
erosi dan sedimentasi yang tinggi maka menyebabkan pengangkatan dan pelipatan
tanah sangiran, sehingga lapisan tanah sangiran terbagi dari 4 lapisan (dari
lapisan teratas) yaitu Formasi Notopuro, Formasi Kabuh, Formasi Pucangan dan
Formasi Kalibeng.
d) Pembagian Ruang di Museum Sangiran
1. Ruang Pamer 1 bertema kekayaan Sangiran dan berbagai
fosil yang ditemukan di daerah Sangiran oleh Prof. Dr. Gustav
Heinrich Ralph von Koenigswald dan sejumlah peneliti lainnya. Di Ruang ini
banyak fosil yang berhasil ditemukan, antara lain fosil binatang darat (gajah,
harimau, dll), binatang air (kudanil, buaya, dll), bebatuan dan berbagai
peralatan yang terbuat dari batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan manusia
purba yang tinggal di Sangiran.
Di Ruang Pamer 1, juga terdapat buku
kegiatan digital yang berisi tentang Evolusi Manusia Purba. Buku ini berisi
tentang Teori Darwin, Teori Migrasi dan tokoh lainnya lengkap dengan penjelasan
mengenai temuan.
2. Ruang Pamer 2, bertema
Langkah-Langkah Kemanusiaan dan berisi diorama manusia purba serta
profil para peneliti Indonesia setelah merdeka. Langkah-langkah kemanusiaan
dijelaskan pada teori evolusi. Mulai dari Seleksi Alam, Adaptasi dan Variasi.
Seleksi Alam menjelaskan tentang keturunan suatu makhluk tampaknya sama
dengan induk atau saudaranya, kemudian makhluk yang mampu menyesuaikan diri (adaptasi) akan bertahan hidup dan
hingga bisa menciptakan suatu variasi.Setiap makhluk yang dilahirkan itu
mempunyai unsur keturunan masing-masing, unik. Di Ruang Pamer 2, di sini
terdapat beberapa diorama lain dari yang lain. Terdapat diorama G.H.R. von
Koenigswald .Seorang geolog dan salah satu penemu tengkorak “Sangiran
II” yang kemudian disebut sebagai Pithecanthropus erectus. Koenigswald
terlihat gagah, tapi bajunya sepertinya terlalu kecil. Selain diorama para
penetili, terdapat patung manusia purba.Patung Manusia purba disajikan
seakan-akan menggambarkan kegiatan mereka ketika masa itu.Disana tampak
menggambarkan menyalakan api dengan sebuah alat. Menurut keterangan dari
pemandu, meski ada patung yang menggambarkan sedang menyalakan api, namun
sampai sekarang belum ditemukan fosil alat yang digunakan untuk menyalakan api.
Entah itu menggunakan batu atau sejenisnya, tapi sampai sekarang belum
ditemukan.Masih banyak patung yang menggambarkan kegiatan mereka pada jaman
dahulu, misalnya; berburu, masak dan makan bersama.
3. Ruang
Pamer 3, bertema tentang Homo Erectus dan
berisi replika kehidupan species Homo erectus. Pada tahun 2004,
ditemukan sisa-sisa prasejarah dari goa Leang Boa di Flores yang kemudian
terkenal dengan nama Homo Floresiensis.
Temuan ini menggemparkan dunia, karena dia merupakan individu dewasa tetapi
berpostur pendek, dengan tinggi bandan kira-kira 106 cm. Hidup pada
18.000-13.000 tahun yang lalu. Berdasarkan penelitian perkakas yang ditemukan, Homo Floresiensis tergolong manusia yang
cerdas, mampu menggunakan alat kayu dan bambu sebagai alat utama untuk
mengadakan pemburuan.
e)
Koleksi Museum Sangiran
1. Fosil manusia, antara lain Australopithecus
africanus , Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus
robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus
erectus, Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo
neanderthal Asia, dan Homo sapiens .
2. Fosil binatang bertulang
belakang, antara lain Elephas namadicus (gajah), Stegodon
trigonocephalus (gajah), Mastodon sp
(gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis
palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak),
Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
3. Fosil binatang air, antara
lain Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus
sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ),
Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera .
4. Batu-batuan , antara lain
Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis
5. Alat-alat batu, antara lain
serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak
perimbas-penetak
6. Koleksi lainnya
a)
Fosil kayu yang terdiri dari:
1. Fosil kayu Temuan dari Dukuh Jambu, Desa Dayu,
Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar. Ditemukan pada tahun 1995 pada
lapisan tanah lempung warna abu-abu ditemukan pada formasi pucangan
2. Fosil batang pohon
Temuan dari Desa krikilan ,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Fosil ini ditemukan pada tahun 1977 pada
lapisan tanah lempung Warna abu-abu dari endapan ditemukan pada Formasi
pucangan
b)
Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus
Ditemukan di kawasan cagar sangiran pada tanggal 23 november
1975 di tanah lapisan lempung warna abu –abu Formasi kabuh bawah.
c)
Tulang paha
Ditemukan dari Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe, Kabupaten
Sragen pada tanggal 4 Februari 1989 pada lapisan tanah lempung warna abu – abu
dari endapan ditemukan pada formasi pucangan atas.
d) Tengkorak
kerbau
Ditemukan oleh Tardi Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh
Tanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada lapisan
tanah Warna coklat kekuning-kunginan yang bercampur pasir ditemukan formasi
kabuh berdasarkan penanggalan geologi berumur 700.000-500 tahun
e)
Gigi Elephas Namadicus
Ditemukan di situs cagar budaya sangiran Pada tanggal 12
Desember 1975, Pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarna cokelat
ditemukan pada Formasi kabuh
f) Fragmen gajah purba
Hidup
di daerah cagar budaya sangiran. Jenisnya adalah:
1.
Mastodon
2. Stegodon
3. Elephas
g)
Tulang rusuk (Casta) Stegodon Trigonocephalus
Ditemukan oleh Supardi pada tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh
Bukuran, Desa Bukuran Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada lapisan lempung
warna abu – abu dari endapan pucangan atas.
h)
Ruas tulang belakang (Vertebrae)
Ditemukan di situs cagar budaya sangiran pada tanggal 15
Desember 1975 di lapisan tanah pasir berwarna abu – abu pada formasi kabuh
bawah.
i)
Tulang jari (Phalanx)
Ditemukan di situs sangiran pada tanggal 28 oktober 1975
pada lapisan tanah pasir kasar warna cokelat kekuning-kuningan pada formasi
kabuh.
j)
Rahang atas Elephas Namadicus
Rahang ini dilengkapi sebagian gading ditemukan oleh Atmo di
Dukuh Ngrejo, Desa Samomorubuh Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen pada tanggal
24 April 1980 pada lapisan Grenz bank antara formasi pucangan dan kabuh.
k)
Tulang kaki depan bagian atas (Humerus)
Bagian fosil ditemukan oleh Warsito Desa Krikilan, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 28 Desember 1998 pada lapisan tanah
lempung warna abu – abu dari formasi pucangan atas kala pleistosen bawah
l)
Tulang kering
Ditemukan oleh Warsito di Dukuh Bubak Desa Ngebung,
Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen pada tanggal 4 januari 1993 lapisan tanah
lempung warna abu – abu dari formasi pucangan atas.
m) Fosil Molusca
a.
Klas Pelecypoda
b.
Klas Gastropoda
n)
Binatang air
1. Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.)
ditemukan pada tanggal 17 Desember 1994 oleh Sunardi di Dukuh Blimbing, Desa
Ngebung, Kecamatan kalijambe kabupaten Sragen pada formasi pucangan
2. Kura – kura (Chlonia Sp.) ditemukan
pada tanggal 1 Februari 1990 oleh hari Purnomo Dukuh Pablengan, Desa krikilan ,
Kecamatan Kalijambe, kabupaten Sragen pada Formasi pucangan
3. Ruas tulang belakang ikan ditemukan
pada tanggal 20 November 1975 oleh Suwarno di Desa Bukuran, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen pada formasi pucangan.